Tips Psikologi Untuk Pasangan Yang Ingin Cepat Punya Anak

tips cepat hamil dan punya anakPunya anak yang sehat dan lucu adalah keinginan sebagian besar pasangan suami-istri yang baru menikah. Sebuah keluarga akan terasa lengkap dengan hadirnya seorang anak. Ada ayah, ada ibu, dan ada anak. Klop sudah rasanya.

Sayangnya, tidak semua pasangan yang baru menikah bisa cepat punya anak atau keturunan. Ada pasangan yang setelah menikah bisa segera hamil dan memiliki momongan. Namun tidak sedikit juga pasangan yang harus menunggu lama untuk memiliki si buah hati.

Belum hadirnya seorang anak ditengah keluarga sering menjadi beban mental yang tidak ringan, apalagi bagi wanita. Perlu kesabaran tersendiri manakala orang tua, mertua, atau sanak saudara bertanya tentang anak yang belum juga hadir. Serba salah memang menjawabnya. Maunya sih ditanya yang lain saja. Tapi jika mereka bertanya terus tentang hal yang sama, apa daya ?

Stress tidak kondusif bagi kehamilan

Pertanyaan seperti, “Sudah punya momongan apa belum?” atau “Sudah punya anak berapa ?” atau “Ikut KB ya, kok belum punya anak ?” adalah pertanyaan biasa dan wajar. Sangat mungkin mereka tidak memiliki maksud apapun saat bertanya seperti itu. Mereka bertanya hanya sekedar bertanya saja karena ingin tau. Untuk pertanyaan yang seperti ini pasti bisa dimaklumi.

Namun pertanyaan itu menjadi “tidak biasa” jika nadanya sedikit menekan. Misalnya “Sudah sekian tahun menikah kok belum punya anak ?” atau “Sudah coba belum ke pengobatan alternatif X, dengar-dengar yang berobat kesana bisa cepat punya anak loh ?” atau “Apa harus berhenti kerja, supaya lebih santai dan cepat dapat momongan ?”, dan pertanyaan lain yang disampaikan dengan desakan tertentu.

Meskipun tidak sama persis, namun pertanyaan dengan nada seperti itu cukup mengganggu. Termasuk juga hal lain yang menyertai pertanyaan tersebut seperti sikap, nada bicara, gaya bahasa, raut muka, gesture dll. Apalagi jika pertanyaan seperti itu diulangi lagi pada kesempatan lain. Dalam jangka panjang, mendapat pertanyaan dan situasi yang menekan seperti itu bisa menyebabkan stress. Alih-alih ingin segera punya anak, malahan sebaliknya situasi tertekan dan stress justru tidak mendukung dan bisa menghambat program kehamilan.

Dukungan psikologi bagi pasangan yang ingin punya anak

Fakta ilmiah menunjukkan bahwa kondisi tertekan atau stress sangat tidak kondusif bagi pasangan yang ingin cepat punya anak. Sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Oxford menjelaskan tentang keterkaitan antara stress dan peluang terjadinya kehamilan. Menurut penelitian tersebut wanita yang banyak stress peluang untuk terjadinya kehamilan turun sebanyak 12 persen. Penelitian tersebut melibatkan 274 wanita berumur antara 18 – 24 tahun yang semuanya ingin punya anak.

Pertanyaannya, bagaimana caranya keluar dari situasi yang bikin stress itu sehingga tercipta suatu situasi dan kondisi yang mendukung bagi terjadinya kehamilan ? Nah, berikut ini adalah sedikit tips psikologi bagi pasangan yang ingin cepat punya anak jika terlanjur berada dalam situasi yang tertekan tersebut.

Jangan menyalahkan diri sendiri

Masyarakat kita cenderung memberi stigma negatif pada wanita atau istri manakala ada pasangan yang sudah lama menikah namun belum punya anak. Masyarakat sering lebih dulu menganggap pihak wanita lah yang tidak subur dibanding pria. Padahal penyebab ketidaksuburan atau belum terjadinya kehamilan bisa berasal dari keduanya : suami atau istri. Jika dipetakan dalam persentasi maka 40 persen disebabkan oleh suami, 40 persen oleh istri dan 20 persen oleh sebab yang lain.

Stigma negatif itu begitu kuat, sehingga para wanita banyak yang terpengaruh dan menyalahkan diri sendiri. Bila keinginannya untuk punya anak belum terpenuhi, maka ia pun merasa keberadaannya sebagai wanita belum sempurna.

Pada akhirnya sikap menyalahkan diri sendiri tersebut akan menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu. Misalnya khawatir ditinggal suami, khawatir suami dicarikan pasangan baru, khawatir bercerai dan lain-lain.

Berpikiran positif (positive thinking)

Menghadapi situasi yang seperti itu memang tidak mudah. Jika desakan itu ditanggapi secara negatif, maka akan menimbulkan gesekan dalam keluarga. Jika dibiarkan saja, kita makin tambah stress. Karena itu berpikiran positif saja.

Desakan mereka agar kita cepat punya anak itu anggap saja sebagai bentuk perhatian mereka kepada kita. Jika cara mereka dalam menyampaikan perhatian itu ada hal yang kurang berkenan itu soal lain. Setiap orang ‘kan punya cara dan gaya sendiri dalam menyampaikan sesuatu.

Anak adalah titipan atau amanah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika kita belum mendapat amanah tersebut cobalah kuatkan dan ikhlaskan hati. Pada saat yang sama, tetaplah sabar, berdoa, dan berusaha. Jika kita yakin do’a kita akan dikabulkan, maka insya Allah Yang Maha Kuasa pun akan mengabulkan.

Perlunya dukungan psikologis

Jika dalam sebuah keluarga besar ada pasangan yang sudah lama menikah namun belum memiliki keturunan, maka sebaiknya keluarga besar tersebut memberikan dukungan. Setidaknya dukungan secara psikologis.

Yang diperlukan pasangan yang ingin cepat punya anak adalah dukungan yang tulus, bukan desakan dan sikap menyalahkan. Karena itu jika mertua, orang tua, sanak saudara ingin memberikan dukungan maka berikanlah itu dengan tulus bukan dengan tekanan, desakan ataupun sekedar sindiran. Serta hindarilah kata-kata dan nada bicara yang bisa menyinggung perasaan pasangan tersebut.

Semoga bermanfaat.

Terima kasih telah berkunjung. Silakan meninggalkan komentar yang relevan.