Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja Bagi Karyawan

Program kesehatan dan keselamatan kerjaBagi seorang karyawan, program kesehatan dan keselamatan kerja di perusahaan tempatnya bekerja sangatlah penting. Program kesehatan dan keselamatan kerja (K3) adalah program resmi pemerintah untuk melindungi kepentingan karyawan, perusahaan, dan masyarakat sekitar dari bahaya dan ekses negatif akibat kecelakaan maupun proses kerja. Bagi karyawan, program K3 adalah harapan akan tersedianya jaminan kesehatan dan keselamatan selama dia menjalankan tugas dan pekerjaannya, sehingga seorang karyawan dapat bekerja maksimal tanpa adanya kekhawatiran pada kesehatan dan keselamatannya.

Tujuan program kesehatan dan keselamatan kerja

Secara umum program kesehatan dan keselamatan kerja (K3) memiliki empat tujuan yaitu : Pertama, melindungi kesehatan dan keselamatan karyawan sehingga karyawan dapat memaksimalkan semua kemampuannya dalam bekerja tanpa rasa khawatir. Kedua, melindungi masyarakat sekitar misalnya dari bahaya pencemaran lingkungan, polusi air dan udara, suara bising dll. Ketiga, mengamankan asset produksi milik perusahaan yaitu barang, bahan dan peralatan produksi, sehingga asset produksi tersebut berada ditempat yang aman (secure) serta  lebih tahan lama. Keempat, mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja, misalnya antisipasi kebakaran, antisipasi bahan kimia berbahaya, radiasi, dan kecelakaan kerja lainnya.

Landasan Hukum Program Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

Layaknya sebuah program, maka program kesehatan dan keselamatan kerja di perusahaan harus memiliki landasan hukum yang kuat. Ada empat landasan hukum yang bisa di sebutkan disini yaitu :

1.     Undang-Undang (UU) No. 1 Tahun 1970 Tentang Keselamatan Kerja

Undang-undang ini memuat antara lain ruang lingkup pelaksanaan keselamatan kerja, syarat keselamatan kerja, pengawasan, pembinaan, tentang kecelakaan, kewajiban dan hak tenaga kerja, kewajiban memasuki tempat kerja, kewajiban pengurus dan ketentuan penutup (ancaman pidana) dan lain-lain.

2.      UU No. 21 tahun 2003 yang meratifikasi Konvensi ILO No. 81

Pada 19 Juli 1947, badan PBB International Labour Organization (ILO) telah mengesahkan konvensi ILO No. 81 tentang pengawasan tenaga kerja bidang industri dan perdagangan (Labour Inspection in Industry and Commerce). Sebanyak 137 negara atau lebih dari 70 persen anggota ILO meratifikasi konvensi ini, termasuk Indonesia (sumber : www.ILO.org).

3.      UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

Khususnya alinea 5 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja, pasal 86 dan pasal 87. Pasal 86 ayat 1 :  Setiap Pekerja / Buruh mempunyai Hak untuk memperoleh perlindungan atas (a) Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Pasal 86 ayat 2 : Untuk melindungi keselamatan Pekerja / Buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Pasal 87 : Setiap Perusahaan wajib menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang terintegrasi dengan Sistem Manajemen Perusahaan.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per-05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Permenakertrans ini adalah landasan Pedoman Penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3), mirip OHSAS 18001 di Amerika atau BS 8800 di Inggris.

Resiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja Bagi Karyawan

Setiap jenis pekerjaan memiliki resikonya sendiri-sendiri. Ada jenis pekerjaan yang resikonya tinggi seperti pekerjaan teknik dan konstruksi, serta ada pula pekerjaan yang resikonya rendah seperti pekerjaan administratif. Karena itu pada tiap jenis pekerjaan perlu diperhitungkan semua potensi yang membahayakan (hazard) maupun resiko lain akibat sistem kerja, kesalahan mesin dan alat produksi, bahan, lingkungan serta faktor manusia (human error).

Pada saat seorang karyawan bekerja, kesehatan dan keselamatan kinerjanya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya :

1. Beban pekerjaan, baik berupa beban fisik, mental dan sosial, termasuk juga penempatan karyawan yang sesuai dengan kemampuannya (the right man on the right place), dan lain-lain.

2. Kapasitas karyawan, ini banyak tergantung pada tingkat pendidikan, tingkat keterampilan, kebugaran jasmani, standar fisik, asupan gizi dan sebagainya.

3. Lingkungan kerja seperti faktor cuaca, electricity, radiasi, kimia, biologi maupun faktor psiko-sosial seperti interaksi antar karyawan, atasan dan bawahan, karyawan dengan masyarakat dan lain-lain.

Aspek keselamatan kerja di perusahaan

Salah satu cara untuk meminimalisir kecelakaan kerja adalah terpenuhinya aspek keselamatan kerja, baik berupa kebijakan maupun peralatan (hardware).  Aspek keselamatan kerja adalah sarana atau alat untuk mencegah timbulnya kecelakaan kerja baik yang disebabkan oleh kelalaian kerja maupun lingkungan kerja yang tidak kondusif. Terpenuhinya aspek keselamatan kerja ini diharapkan dapat meniadakan kecelakaan kerja yang bisa berakibat cacat atau kematian terhadap karyawan serta mencegah terjadinya kerusakan tempat dan peralatan kerja.

Yang perlu diperhatikan dalam upaya meminimalisir kecelakaan kerja misalnya konstruksi gedung beserta perlengkapan dan antisipasi bahaya kebakaran, jaringan elektrik dan komunikasi, kualitas udara, kualitas pencahayaan, tingkat kebisingan suara, tata ruang (display unit), faktor hygiene dan sanitasi, psiko-sosial, maintenance, penggunaan komputerisasi dan lain-lain.

Berkaitan dengan resiko ini, program K3 misalnya melakukan pencegahan timbulnya penyakit akibat proses kerja, misalnya karena kebisingan, pencahayaan, getaran, kelembaban udara, dan lain-lain yang dapat menyebabkan kerusakan pada alat pendengaran, gangguan pernapasan, kerusakan paru-paru, kebutaan, kerusakan jaringan tubuh akibat sinar ultraviolet, kanker kulit, kemandulan, dan lain-lain

Akhirnya, bagi karyawan program kesehatan dan keselamatan kerja diharapkan bisa membuat karyawan bekerja dengan maksimal tanpa kekhawatiran akan kesehatan dan keselamatannya. Sedangkan bagi perusahaan, program kesehatan dan keselamatan kerja janganlah dipandang sebagai beban. Program K3 adalah investasi jangka panjang bagi sebuah perusahaan yang akan menguntugkan pihak perusahaan sendiri dimasa mendatang.  Sebab, karyawan sejatinya adalah asset perusahaan dan bukan sekedar sebuah faktor produksi.

Terima kasih telah berkunjung. Silakan meninggalkan komentar yang relevan.