«

»

Mar 09 2013

6 Penyebab Perceraian Suami-Istri

penyebab cerai suami istriPerceraian adalah tanda berakhirnya sebuah ikatan pernikahan atau perkawinan antara pasangan suami dan istri. Perceraian biasanya terpaksa dilakukan jika sudah tidak ada lagi kecocokan antara suami dan istri. Dengan kata lain perceraian merupakan jalan terakhir jika semua upaya untuk menyatukan kedua belah pihak gagal dilakukan. Dari tahun ke tahun angka perceraian di kalangan masyarakat cenderung meningkat.

Ada dua macam perceraian yaitu cerai hidup dan cerai mati. Cerai hidup jika pasangan suami-istri berpisah karena sudah tidak ada kecocokan satu dengan yang lain. Sedangkan cerai mati jika suami istri berpisah karena salah satu pasangan meninggal dunia. 

Penyebab perceraian sesungguhnya sangat beragam. Masing-masing pasangan memiliki alasan berbeda satu dengan yang lain. Alasan sudah tidak ada kecocokan antara suami dan istri sepertinya merupakan alasan yang klise, terlalu general, atau terlalu umum. Berikut ini adalah 6 penyebab perceraian yang lebih spesifik dan paling umum dikemukakan.

1. Runtuhnya kesetiaan

Keutuhan sebuah rumah tangga mensyaratkan adanya kesetiaan antara suami-istri. Kesetiaan adalah komitmen bersama untuk mencintai hanya pada satu ikatan. Ikatan itu  ibarat pondasi untuk bangunan yang bernama rumah tangga. Jika salah satu pihak melanggar kesetiaan itu dengan berselingkuh misalnya, maka pondasi rumah tangga itu sesungguhnya sudah retak atau rapuh.  Dan dengan sedikit guncangan saja rumah itu bisa roboh. Secara umum runtuhnya kesetiaan merupakan awal penyebab perceraian.

2. Kurangnya kepercayaan

Sikap saling percaya antara suami istri memegang peran penting bagi keutuhan sebuah rumah tangga. Memberi kepercayaan ibarat menyerahkan jaminan paling berharga yang kita miliki. Sudah tentu kita memberikannya pada seseorang yang memiliki sifat amanah atau bisa dipercaya. Jika orang yang kita beri amanah menyalah gunakan kepercayaan yang kita berikan, maka selamanya kita tidak akan mempercayainya lagi.

Demikian pula halnya dalam sebuah pernikahan atau perkawinan. Jika salah satu pasangan ingkar terhadap amanah yang diberikan pasangannya, maka akan muncul bibit saling curiga. Jika sudah muncul curiga dan tidak saling percaya, maka perceraian itu tinggal menunggu waktu.

3. Hubungan seksual yang hambar

Hubungan seksual merupakan bagian dekoratif dari sebuah rumah tangga. Bagian ini membuat bangunan rumah tangga jadi lebih indah walaupun mungkin secara fisik rumah itu nampak reot. Sebagai sebuah hiasan dekoratif, hubungan seksual mestilah indah bagi kedua belah pihak. Jangan sampai hiasan itu indah bagi suami tapi tidak indah bagi istri, atau sebaliknya.

Meskipun kepuasan seksual sangat relatif sifatnya, namun jika dalam sebuah hubungan seksual hanya salah satu saja yang mendapatkan kepuasan sedangkan pasangannya menjalaninya dengan hambar, maka harus didiskusikan agar ditemukan solusinya. Terpenuhinya kebutuhan seksual pasangan suami-istri dapat menjauhkan mereka dari salah satu penyebab perceraian.

4. Faktor finansial

Kesenjangan penghasilan antara suami dan istri bisa menjadi penyebab perceraian, apalagi jika suami tidak memiliki pekerjaan karena malas. Penghasilan merupakan modal penting bagi kelanggengan sebuah rumah tangga jaman sekarang. Penghasilan memungkinkan dibangunnya kekuatan rumah tangga dari sisi finansial. Rumah tangga dengan sisi finansial yang kuat otomatis lebih mandiri dan lebih mudah dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga.

5. Pernikahan tanpa dilandasi rasa cinta

Jaman sekarang, masih adakah pernikahan tanpa dilandasi rasa cinta ? Tentu saja masih ada. Pernikahan seperti ini bisa karena desakan orang tua, karena menginginkan harta, dan lain-lain. Jika faktor pengikat atau pendorong pernikahan itu sudah tidak ada lagi maka bisa menyebabkan perceraian. Misalnya, orang tua sudah menyadari kekeliruannya, harta sudah ludes, dll.

6. Tidak memiliki keturunan / anak

Punya anak adalah keinginan setiap pasangan. Kehadiran seorang anak bisa menjadi perekat cinta antara pasangan suami dan istri. Sehingga manakala keduanya berselisih atau bertikai, mereka bersedia berkompromi dan saling mengalah demi masa depan dan kebahagiaan anak mereka. Sebaliknya belum hadirnya seorang anak selama bertahun-tahun perkawinan dapat menyebabkan rumah tangga terasa hampa dan mungkin juga menjemukan. Bukan tidak mungkin hal itu bisa menjadi penyebab perceraian.

Akhirnya harus dipahami bahwa perceraian meski diperbolehkan oleh negara dan agama, namun hakikatnya sangat dibenci Tuhan Yang Maha Esa. Agama tertentu seperti Katolik malahan sama sekali tidak mentolerir adanya perceraian.

Menjaga keutuhan rumah tangga bagaimanapun mesti lebih diutamakan dan dikedepankan daripada perceraian. Perceraian adalah pintu terakhir jika semua upaya telah gagal. Itulah mengapa pengadilan agama selalu memberi mediasi pasangan yang ingin bercerai untuk bersatu kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>